Rupiahku sayang, rupiah ku malang
Jeritan Hati Seorang RUPIAH
Mengapa hatimu bimbang
Bukankah sudah pasti badai pasti berlalu
Dan kabut mendungpun kan membiru
Membawa cahaya langit Sudirman dan Thamrin Jakarta
Bukankah sudah kita tahu betul
Dalam dua blok ini rupiahku terseok-seok
Malu-malu berhadapan dengan dolar
Sementara menggejala bahwa tarik menartik, turun naiknya tangga kursmu
Dulu selembar dolar untuk sepiring nasi
Sekarang selembar dollar untuk dua bakul nasi
Sungguh aku belum mau pindah kelain hati
Aku masih setia padamu
Menunggumu dititik-titik kritismu
Aku percaya rupiah belum sekarat
Masih tampak denyutnya biar samar-samar
Tapi sebagaimana Zinedine Zidan
Sebagai mana PSSI, aku masih cinta kamu rupiah
Nasib kita sama. Rupiah
Kita orang-orang awam yang terjepit kuasa
Nasib kita sama. Rupiah
Seperti juga mandulnya DPR kita yang tak berdaya biladatang bonus tiba-tiba
Nasib kita sama. Rupiah
Kita dijadikan alat saja untuk mengongkosi Doku-Men—Doku-Men bisnis yang selalu ramah dengan monopoli
Siapa bilang kau milik konglomerat nyatanya mereka punya selir di Singapura, bukan disingaparna
Jangan kelu bilang ….rrrru,,piah, sedangkan bilang dollar hapal diluar kepala beserta seri-serinya
Rupiah katakan rupiah, rupiah apa obatmu yang mujarab rupiah, agar kau bangun kembali tidak koma seperti saat ini.
Sudah waktunyakah reformasi politik
Kalau benar apa kata mills ; kekuasaan politik membawa implikasi kekuasaaan ekonomi, lebih baik engkau yang kuangkat menjadi pemimpin politik, rupiah. Sebab engkaulah yang berkuasa rupiah.
Rupiah selama ini kau sendiri tak setia pada kami rakyat-rakyat kecil ini.
Tak konsisten pendirianmu rupiah
Kini mau tidak mau kami juga yang menanggungnya
Bukan lantaran tiba-tiba kami jatuh cinta ini semua lantaran kami sengsara melihat ibu-ibu kami mengantri mencari nasi.
Rupiah, oh, rupiah.
Dulu kau selalu berpihak pada golongan itu-itu lagi
Sekarang mana buktinya, kalau mereka setia padamu
Rupiah. Akhirnya kau terjebak dalam keterisolasian yang menyebabkan kemandekan rupiah.
Okelah, kami akan membantu mu rupiah.
Tapi kobarkan semangatmu dulu rupiah, rapihkan barisan komitmenmu, tancapkan keyakinan diri yang mandiri
Bahwa kalau semua orang bisa punya rupiah
Tukarkan dolar-dolar dikantongmu dengan dirimu sendiri rupiah
Sebelum cerita jadi benci
Titipkan salam
Bahwa kami cinta kau rupiah.
Meski kami tau kau tidak cinta kami
Orang-orang kecil.. yang mengais mencari sesuap nasi bersama jeritanmu RUPIAH.
Bukit Tinggi
September 1997
Memoar ketika dalam perjalanan diseputaran Kota Bukit Tinggi Nan Indah, ketika bersama sekawan bersama melakukan Penelitian Pariwisata Atas Undangan Gubernur Sumbar. Hampir satu Bulan disana menikmati hisapan alam nan sejuk, menyaksikan hamparan alam Ngarai Sihanok, Jam Gadang dan tak luput menonton pertunjukan saluang (suling) di Medan Nan Balinduang yang tak jauh dari tempat kami bermukim di Istana Bung Hatta, singgah di berbagai Danau-danau besar melewati kelok ampe-ampe… wuih.. indah nian hamparan Indonesia….Insya Allah Banten Harus punya yang seperti Bukit Tinggi…….setidaknya Wisata adalah sumber daya yang tak ada habisnya bukan laksana dikuras seperti kekayaan alam.
0 Responses to “Jeritan Hati Seorang RUPIAH”
Leave a Reply